Aku merana menatap diriku yang berdiri di cermin. Aku terbangun lagi dari mimpi-mimpi indahku. Mimpi-mimpi yang membuat ku tak ingin terbangun, mimpi-mimpi yang membuatku selalu terjaga dalam tidur. Hatiku berbisik lirih. ”Tuhan, mengapa kau bangunkan aku?”. Kembali ku tatap bayanganku yang berdiri dicermin, yang seolah tersenyum angkuh dan berkata “Selamat datang kembali di dunia nyata, pengecut.” Aku berpaling dari cermin. Berbicara kepada diri sendiri. Yaa... Selamat datang kembali di realita. Selamat datang kembali kehidupan.
Aku buka jendela kamar dan menatap langit yang masih gelap. Mencari jawaban atas semua pertanyaan yang berkecamuk di dada. Berharap Tuhan meminjamkan sedikit kekuatan agar aku kembali tegar dan kuat menghadapi hari ini. Berharap Tuhan memberikan jawaban atas doa-doa ku selama ini, melalui langit. Namun yang ku dapat masih berupa keheningan. Langit masih menatapku dengan tatapannya yang kosong. Air mata ku bergulir tanpa kusadari. Aku benar-benar merasa lelah. Untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar ingin lari dari hidup. Tak peduli dengan cap Pengecut atau Pecundang yang kuterima.
Namun kenyataan menamparku dengan sangat keras.
Pantaskah aku berlari dan meninggalkan beban yang selama ini aku pikul? Pantaskah aku bersikap pura-pura lupa akan kewajiban yang nantinya akan ku tinggalkan? Apakah Lari adalah sebuah penyelesaian? Apakah lari adalah akhir? Pantaskah aku merasa Tuhan tidak adil, ketika beribu masalah yang mungkin lebih berat dariku bertebaran dimuka bumi dan melanda orang-orang seperti sebuah virus.
Tapi aku benar-benar nelangsa. Hatiku berteriak dan jiwaku berontak. Kenyataan yang kualami terlalu pahit Tuhan. Hentakan masalah benar-benar melemparku jatuh terlalu jauh dalam jurang keterpurukan. Jiwaku kesakitan. Tapi aku tak mampu bergerak. Bibirku kelu bahkan untuk mengungkapkan kata protes pada hidup. Hingga akhirnya hanya tangis yang mengalir. Hanya tangis yang mampu mengukirkan kesakitanku. Tangis dalam diam.
Kembali ku tatap langit yang kini mulai digoresi guratan cahaya-cahaya petanda Sang mentari mulai terbangun dari tidur. Fajar telah datang. Tatapanku tak teralih. Setitik cahaya yang mengikuti Sang Mentari terasa masuk ke hati. Fajar seakan berbisik. “Lihat, Mentari pun tetap setia menyinari bumi, memberikan cahayanya, meski kehadirannya sering tak dianggap. Pernahkah orang-orang merasa bersyukur Mentari terbit? Pernahkah orang-orang mengucapkan terimakasih ketika Mentari kembali bangun dari tidur dan melaksanakan tugasnya? Ya, pernah.
Tapi aku benar-benar nelangsa. Hatiku berteriak dan jiwaku berontak. Kenyataan yang kualami terlalu pahit Tuhan. Hentakan masalah benar-benar melemparku jatuh terlalu jauh dalam jurang keterpurukan. Jiwaku kesakitan. Tapi aku tak mampu bergerak. Bibirku kelu bahkan untuk mengungkapkan kata protes pada hidup. Hingga akhirnya hanya tangis yang mengalir. Hanya tangis yang mampu mengukirkan kesakitanku. Tangis dalam diam.
Kembali ku tatap langit yang kini mulai digoresi guratan cahaya-cahaya petanda Sang mentari mulai terbangun dari tidur. Fajar telah datang. Tatapanku tak teralih. Setitik cahaya yang mengikuti Sang Mentari terasa masuk ke hati. Fajar seakan berbisik. “Lihat, Mentari pun tetap setia menyinari bumi, memberikan cahayanya, meski kehadirannya sering tak dianggap. Pernahkah orang-orang merasa bersyukur Mentari terbit? Pernahkah orang-orang mengucapkan terimakasih ketika Mentari kembali bangun dari tidur dan melaksanakan tugasnya? Ya, pernah.
Tapi hanya segelintir orang. Dan Mentari tak pernah lari. Mentari tetap bersinar pada tempatnya berada.
Tak pernahkah kau berfikir kau adalah orang pilihan yang berhak mengikuti cobaan yang diberikan Tuhan. Belajarlah dari Mentari yang tak pernah mengeluh dalam mengemban tugas dan tanggungjawabnya. Belajarlah dari Mentari yang selalu memberi tanpa mempedulikan rasa sakit akibat orang-orang yang mencelanya, orang-orang yang tidak mempedulikannya. Semua hal yang ada dimuka bumi akan menjadi tiada pada akhirnya. Kau akan kembali ke dalam mimpi indahmu yang abadi ketika tugasmu berakhir.
Tak pernahkah kau berfikir kau adalah orang pilihan yang berhak mengikuti cobaan yang diberikan Tuhan. Belajarlah dari Mentari yang tak pernah mengeluh dalam mengemban tugas dan tanggungjawabnya. Belajarlah dari Mentari yang selalu memberi tanpa mempedulikan rasa sakit akibat orang-orang yang mencelanya, orang-orang yang tidak mempedulikannya. Semua hal yang ada dimuka bumi akan menjadi tiada pada akhirnya. Kau akan kembali ke dalam mimpi indahmu yang abadi ketika tugasmu berakhir.
Yakinlah.”
Tetes air mata kembali terjatuh. Yaa.. Tugasku belum selesai. Tuhan telah memilihku untuk berjalan di jalan ini. Dan disinilah aku berjalan, meski harus tertatih, meski harus jatuh bangun, meski harus terluka parah, aku harus terus berjalan..
Semua belum berakhir hingga benar-benar berakhir !
Semua belum berakhir hingga benar-benar berakhir !
Tidak ada komentar :
Posting Komentar