Kamis, 04 Agustus 2016

Meet, Begin,and Split (Kiya Part 1)

Dalam hidup kita dipertemukan dan dipisahkan, disakiti dan menyakiti, dicintai dan mencintai. Semuanya telah digariskan. Seperti jodoh dan takdirmu yang telah ditentukan ketika jiwa mu ditiupkan dalam sebuah raga. Bagaimana kamu bertemu dengan jodohmu, pertemuan seperti apa yang diatur Tuhan, tak ada yang tahu.. dan ini kisahku..
***
Namanya Ekky. Baru-baru ini dia sering datang ke Surau untuk Sholat Magrib dan Isya bersama dua sahabatnya, Yandi dan Aldi. Sama halnya seperti rutinitas ku sehari-hari beserta dua sahabat ku, Desi dan Endah. Baru-baru ini dia sering godain aku. Aku tau, dia dulunya adalah junior ku di SD. Aku tau dia anak cowok yang kesekolah menggunakan sepeda keranjang, menggandeng wanita seusianya yang ku kenal sebagai junior ku juga di sekolah yang sama. Dan aku baru tau, ternyata rumahnya satu RW dengan rumahku. Dengan seenaknya dia menjodohkan ku dengan sahabatnya yang bernama Yandi. Gak ada hari dimana dia selalu mengolok-olok aku sebagai pacarnya Yandi. Surau kami kecil. Batasan shaf antara Jamaah Pria dan Wanita hanya selembar gorden setinggi Pria Dewasa yang diletakkan di tengah ruangan. Dan Sering kali, dengan jahilnya Dia nyembunyiin mukenahku. Karena tempat wudhunya sama, antara lelaki dan perempuan, kadang Dia sengaja berlama-lama hanya untuk membatalkan wudhu ku, ketika ku sudah memasuki tahap akhir wudhu dengan sengaja dia menepak bahuku, atau menarik rambutku yang dikuncir kuda. Dia nyebelin. Sok Ganteng. Sok kuat, walau yah bisa diakui dia memang lumayan kuat. Dia ikut silat dan dengan usianya yang setahun dibawah ku dia udah pakek sabuk hijau. Itu memang sebuah prestasi yang menunjukkan dia boleh diacungi jempol untuk hal yang satu ini. Satu lagi yang aku tahu tentang Dia. Gombal. Dan inilah awal mula aku dan dia. Hanya teman Bertengkar. Teman Perang Mulut. Teman Kejar-Kejaran kayak Tom dan Jerry.
Aku dengar dari temen aku, dia pacaran sama wanita bernama Yani, wanita keturunan Pakistan yang gak lain adalah Adik Kembar dari Yandi. Hal itu tidak membuatku cemburu, dan justru membuat aku berfikir “Gila.. kok bisa aku keduluan sama anak SD”. Aku kelas 2 SMP. Jangankan Pacaran, ditembak cowok aja gak pernah.
Dan kemudian hari itu tiba..
***
Gak seperti biasanya Ekky memanggil ku, menyuruh ku menemuinya di Belakang Surau Ba’da Isya. Aku pikir dia pasti akan menjahili aku lagi. Karena itu aku meminta Lia, sepupuku yang tomboi untuk menemaniku. Seperti biasa, dia mengolok-olok aku ini dan itu. Karena mulai kesal aku memutuskan untuk pergi, karena hal yang ia lakukan cuman buang-buang waktu aku. Tepat ketika aku berbalik dia menarik tanganku dan bilang “tunggu..” aku bete dan berbalik lagi, tapi yang kulihat, ekky kini tengah memegang tanganku, dan ditangan kirinya dia memegang sekuntum mawar pink . Aku shock dan kaget banget. Apalagi ketika mendengar kata-kata Dia selanjutnya. “Aku suka kamu.. mau jadi pacar aku?”
Tidak, aku tidak langsung menerimanya. Apalagi, saat itu aku sama sekali tidak memiliki perasaan lebih, tidak berdebar-debar seperti yang kurasakan untuk seseorang. Sepupu Lia mengambil bunga itu sambil tertawa mengejek. Masih ku ingat saat Lia melepaskan kelopak demi kelopak mawar di depan ekky sambil berkata “terima... tidak.. terima.. tidak”. Sedangkan aku saat itu hanya tertawa dan melihat ulah lia, dan merasa aneh. Beginikah rasanya ditembak seseorang secara langsung?
***
3 minggu berlalu. Kini untuk pertama kalinya, aku punya pacar. Pacar yang lumayan bisa kupamerkan pada orang-orang, begitulah pendapat sahabat ku Desy, yang merayuku dengan mengutarakan alasan seperti itu untuk menerima Ekky dan mencoba berpacaran dengannya. Yah, akhirnya setelah mengulur waktu selama 3 minggu, aku memberikan jawaban ya. Pertama kalinya pacaran, aku jadi seperti orang idiot, yang hanya pergi ke surau aja berusaha untuk tampil cantik, padahal ketika itu aku hanya menganggap dia pacar pameran. Grogi ketika dia menyapaku lembut, padahal sebelumnya tiap kali bertemu hanya pertengkaran mulut yang terjadi. Salting ketika mendengarkan music dari 1 headset yang sama, sambil duduk di teras Surau. Menanti-nanti weekend, saat kencan pertama di pemandian. Meski tak pernah sekalipun kita benar-benar berdua (selalu ada yandi dan aldi yang dampingi dia, begitu pula selalu ada desy, lia, selvi, yang dampingin aku). Menikmati saat-saat dibonceng dia naik sepeda tiap kali pulang dari pemandian. 1 Minggu berganti bulan, dan 3 bulan pun berlalu. Aku menjadi terbiasa dengan tawanya disampingku, aku jadi terbiasa dengan sifat lembutnya. Dia lebih muda, tapi bersamanya Dialah yang kelihatan lebih dewasa. Kadang aku merasa kesal sendiri ketika banyak cewek yang bicarain dia ketika di pemandian, cewek yang ingin kenalan, ato cewek yang terang-terangan berkata aku sama sekali tidak cocok dengannya. Yah, aku tau. Kulitku coklat, sedangkan dia kuning langsat. Jika duduk berdampingan hanya membuat orang menertawakan betapa besarnya perbedaan kami. Aku sendiri sering kali minder, dan mulai selalu menggunakan jaket tiap kali keluar rumah. Aku ingin menjadi lebih cantik, dan ingin menjadi wanita yang sepadan untuknya.
Aku mulai jatuh cinta, pada tawanya, pada suaranya, pada lagu favoritnya, pada ngambeknya, dan padanya. Tapi semua luluh lantah, semua rasa itu mengalir bersama tangis. Kita tak pernah bertengkar, kita selalu tertawa, kita bercerita banyak hal, kita melakukan banyak hal menyenangkan, namun malam pergantian tahun, dengan pembicaraan singkat lewat telepon, dia berkata “maaf, lebih baik kita putus”.
***
Aku jatuh cinta pertama kali pada kelas 4SD. Cinta sebelah tangan yang ku simpan selama 3th dan ku kubur dalam tanpa ku ungkapkan. Kelas 1 SMP aku juga pernah di datangi 3orang senior wanita, anak kelas 3, yang marah-marah karena aku dekat dengan kakak kelas yang ternyata jadi idola anak kelas 3. Padahal kedekatan kami tak lebih hanya karena kita satu grup dalam paduan suara yang dilombakan di tingkat provinsi. Aku juga pernah suka sama seseorang yang tidak satu keyakinan denganku. Seseorang yang juga disukai sahabatku. Semuanya begitu menyakitkan. Tapi entah kenapa rasa ketika aku diputuskan justru menjadi rasa yang paling sakit. Malam tahun baru menjadi malam yang paling aku benci. Aku mencoba berfikir realistis. Siapalah aku. Mungkin dia minder menjadikan aku sebagai pacarnya. Mungkin dia hanya menjadikanku mainnya semata. Mungkin dia bosan. Dan mungkin hanya akulah yang dari awal merasa bahagia hingga akhirnya jatuh cinta.
Hari itu, tepat sehari setelah dia memutuskanku, dia kembali mendatangiku, memintaku berbicara 4 mata. Dia meminta maaf, dan berkata lebih baik kita berteman. Aku mengulurkan tanganku untuk menjabat tangannya dan berkata “ya, kita berteman. Terimakasih untuk waktu 3 bulan ini”, hatiku masih sakit,, mataku masih bengkak saat mengatakannya, tapi aku berkata dengan tulus. Dia adalah lelaki yang baik, yang masih mau bertemu denganku, memberanikan diri mengungkapkan kata putus secara langsung, tidak hanya lewat telepon. Terimakasih untuk rasa yang indah selama 3 bulan ini, terimakasih karena telah menjadi pacar pertamaku. Meski tanpa pelukan, tanpa ciuman, tanpa kata-kata sayang, kau membuat hari-hariku sebagai pacarmu begitu indah, dan tak kan terlupakan.
***

Tidak ada komentar :

Posting Komentar